Kamis, 26 Juli 2012

Jejak perjalanan spiritual EL

By: EL

Sahabat, setiap kita adalah penempuh jalan.
Jalan yang kita pilih, adalah penentu kebahagiaan dan kesuksesan.
Tahukah apa kebahagiaan terbesar kita sebenarnya?
Yakni ketika kita berhasil untuk tidak melupakan Tuhan di setiap jejak perjalanan kita.
Karena jika kita berpaling dari-Nya... tunggulah kehancurannya.

Catatan di bawah ini, bukan untuk menggurui.
Bukan untuk pamer dan tinggi hati.
Tapi untuk berbagi.
Sesungguhnya aku bisa berada di tengah-tengah kalian,
hanya karena pelangi cinta-Nya...
yang mengiringi langkahku yang kadang gontai,
yang menuntun hatiku yang kadang dibutakan cinta berlebih pada duniawi.

Berikut jejak-jejak inspirasi, yang pernah kulewati.
Meski telah menjadi sejarah, tapi bagiku ini penting untuk ditulis kembali.
Sebagai bahan renungan untuk diri sendiri.

 _____________________________________

Masa Kanak-kanak (usia TK dan SD)
Aku adalah bagian dari orang pinggiran, anak yang lahir dan besar di desa terpencil, daerah pedalaman dan pesisir.
Aku bersama puluhan sahabat kecilku, belajar membaca Al-Qur'an pada sepasang suami istri, di pondok mereka yang sederhana. Kami memanggil mereka guru.
Hem, meskipun sistem belajar yang mereka ajarkan, sangat sederhana. Sulit dipahami karena hanya menganut sistem belajar hafalan tanpa belajar baca qur'an dari dasar, secara berjenjang. Kami tetap antusias belajar, habiis hanya mereka yang dianggap guru ngaji di desa kami.
Dan mereka mengajar sukarela, tanpa digaji. Kalaupun diberi imbalan, paling imbalan mereka hanya dibarter dengan air 1 ember/murid setiap sore, tuk mengisi bak mandi. Atau dengan membersihkan kamar mandi, mencari kayu bakar, menyapu halaman, yang dilakukan oleh murid setiap hari ahad. Yah, demikian semangat kami, belajar membaca kitab suci.
Saat SD, aku sering juara lomba adzan, lomba menghafal surat pendek, dan cerdas cermat saat lomba peringatan nuzul qur'an. Itu juga masih bagian dari didikan kedua guru mengajiku yang luar biasa.
Kelas 5 SD, aku sudah terbiasa mendaki gunung, memetik cengkeh sambil puasa. Karena hanya dengan begitu aku bisa beli baju baru untuk lebaran...berhubung sejak kelas 3 SD, aku dituntut mandiri, terlantar dan kehilangan kasih sayang orang tua.

Masa SMP
Aku pernah juara lomba baca puisi islami, mulai dari tingkat sekolah hingga tingkat kecamatan. hehe...
Jadi ketua panitia pesantren kilat, di kelas 3 SMP.
Muadzin tetap dan sesekali jadi imam kalau gak ada guru yang sholat di musholla SMP.
Muadzin tetap di mushollah tua di desaku... yang memakmurkan mushollah tersebut, hanya aku dan seorang kakek tua. Jamaah yang datang setiap sholat magrib, gak pernah lebih dari satu shaf. Apa lagi kalau subuh... kadang hanya berdua. Aku yang adzan, beliau yang jadi imam. Dari kakek tua tersebut, aku banyak bertanya ilmu agama.
Aku sudah terbiasa menamatkan puasa, walau saat puasa harus bekerja di perusahaan kayu, memikul balok. Karena hanya itu cara satu-satunya agar bisa beli baju baru saat lebaran.

Masa SMA
Saat jadi Ketua Osis, aku adain beberapa lomba tingkat sekolah di kotaku. Di antaranya: pawai akbar menyambut bulan suci ramadhan, lomba keagamaan di bulan suci ramadhan. Hoho, walau aku ketos tapi jadi peserta lomba juga! biar tambah eksis. Hem... Lomba ceramah agama, Lomba peragaan busana muslim, lomba baca puisi islami, ketiganya EL yang juara I
Desaku jauh dari tempat sekolahku. Setiap bulan ramadhan, aku pulang kampung! Dan setiap peringatan nuzul qur'an, aku adain  lomba keagamaan tingkat anak SD dan SMP. Aku yang cari dana kegiatan, aku yang konsep acaranya, yang jadi ketua panitia, yang jadi MC. Yah, tantangan di tengah kondisi yang memprihatinkan. Maklum, anak muda di desaku umumnya jadi petani dan nelayan. Ada yang memilih putus asa, karena orang tua gak mampu biayai sekolah. Ada juga yang lanjut, setelah orang tua jual kebun dan sawah, tapi mereka terfocus pada pelajaran dan melupakan kecerdasan lain, yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan. Yang penting belajar, setelah tamat lanjut kuliah, jadi pegawai, dapat gaji tetap, selesai!

Masa Kuliah
Jadi aktivis Lembaga Dakwah Kampus, sekretaris umum salah satu taman pengajian, tingkat Fakultas.
Jadi ketua panitia studi islam intensif (SII).
Pimpin diskusi dan banyak kegaiatn keagamaan yang kami laksanakan dari masjid ke masjid, dari rumah ke rumah.
Dan banyak pengalaman berharga dari setiap kegiatan yang dilaksanakan.

Tapi akhirnya, Allah mengujiku dengan cobaan yang berat...
Aku putus asa, dan terperosok di dunia kebebasan.
Lupa dengan pondasi istana impian, yang telah kubangun sejak awal.

Dan hari ini aku belajar mengumpulkan mozaik-mozaik yang berserakan.
Menjadikannya permata hati, untuk menggapai kebahagiaan hakiki.
Melalui karya, melalui tulisan yang mengisnpirasi.
Tidak akan ada lagi keputus asaan.
Yah, dunia menulis, telah membantuku, untuk mengingat kejadian-kejadian yang telah kulalui selama ini.
***

Sahabat, kalian tahu, untuk tetap teguh di jalan-Nya, aku harus menjalani kegetiran.
Mulai dari mencari nafkah di usia dini, jadi kuli bangunan hanya tuk bayar uang sekolah, jadi pembantu rumah tangga (anak tinggal) agar bisa kuliah, dll.
Tapi aku percaya, bahwa ada Dia di setiap desah nafas. Karena itu aku kuat! Aku masih bisa bertemu kalian... di sini...
Sungguh, tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri nikmat Allah.
Jika kita menolong agama-Nya,...
maka Dia pun akan selalu menolong kita di setiap kali terjatuh, akan selalu ada di setiap kita butuh.
Semoga kita tergolong orang-orang yang beruntung.
________________________

*inspirasi kisah nyata, yang EL jalani. maaf nulisnya gak karuan... hehe
Nih, hanya catatan kisah, liku-liku perjalanan spiritual.
Semoga bermanfaat.

1 komentar:

Yasa Kerta mengatakan...

kisah yg memilukan hati..
Sungguh menginspirasi..
slam kenal Kak, sy ketut kertayasa, anak matematika untad angk.06.
Terima kasih.

Posting Komentar