Kamis, 06 Oktober 2011

Curhat tentang Ibu

By: Ugahari
 
Ibu ku adalah tipikal ibu-ibu yang cukup khawatiran tentang kesehatan anak-anaknya. Hanya mengeluh sakit perut saja dalam beberapa hari, beliau akan bertanya-tanya dan mengetes bagaimana rasanya jika kakiku di angkat. Karena khawatir itu adalah usus buntu. Nah, saat ini Ibu sedang rajin-rajinnya memperhatikan cara jalanku pasca keseleo ketika sedang berlibur di kampung halaman. Setiap saat Ibu akan bertanya tentang kondisi kakiku. Sudah satu bulan lebih sejak kejadian itu, namun hingga kini rasa sakit di kakiku belum sepenuhnya hilang. Ibuku khawatir tentang hal ini.

Seperti magrib tadi. Kami berdua sedang duduk menonton acara TV sementara Ibu menghilangkan rasa gerahnya setelah pulang dari kantor. Sambil membuka-buka halaman koran, Ibu bertanya, "Kakinya gimana, Kak?"

Ku jawab, "Masih kayak kemarin."

"Sakitnya gak berkurang?"

"Engga, malah jadi agak lebih sakit lagi nih."

"Loh, masa? Obat kamu minum?"

"Di minum, masih ada tuh. Tinggal sedikit lagi."

Wajah Ibu yang mulai menua, tampak berkerut-kerut. "Di bawa kemana lagi ya, Kak. Mbah yang kemarin gak cocok kali. Apa ke tempat yang dulu? Tapi, Ibu gak hafal tempatnya dimana..." Ibu berkata dengan nada penuh ke khawatiran.

Ah, ada perasaan sedih menyusup hatiku saat menatap wajah dan mendengarkan nada kekhawatiran disana. Aku tak menyangka, masalah kakiku saja dapat membuatnya sekhawatir itu. Ibu pun sampai bertanya tentang jadwal kuliahku. Beliau mencocokkan jadwal kerjanya dengan jadwalku agar bisa membawaku ke tempat urut.

Rasanya, aku terharu dan merasa bersalah. Bahwa selama ini, aku tak begitu perhatian pada Ibu yang sangat memperhatikan aku....

0 komentar:

Poskan Komentar