Senin, 28 November 2011

New Ridha in New Years

Azan magrib berkumandang. Huhhh... lagi-lagi harus ikut ke surau untuk mengikuti pengajian. Untung saja dia selalu hadir disana hingga aku jadi sedikit betah. Coba kalau tidak, pasti bakal amat membosankan dan menjengkelkan.
            Tempat ini beda sekali dengan tempat tinggalku di kota. Biasanya jam segini aku sudah berada di tempat tongkrongan menghabiskan malam bersama teman-temanku. Tapi takdir malah mengirimku ketempat ini.
            Dua minggu sudah aku ditempat ini. Ditempat yang sangat membosankan bagiku. Sebuah pesantren di kedalaman desa yang jauh dari keramaian. Hanya dua alasan mendasar mengapa aku bertahan di pesantren ini, yaitu karena aku sudah tak punya tempat tinggal lagi setelah aku keluar dari rumah usai pertengkaran hebatku dengan Ibu. Dan satu alasan lagi adalah karena ketampanannya. Pria yang telah menyelamatkanku dari cengkraman laki-laki laknat di tengah malam yang gelap dan sekaligus orang yang telah membawaku ketempat ini.

Rabu, 02 November 2011

Merindu

By: Amma O'Chem

Sejenak aku bertanya pada diri
Mengapa ada sakit dihati
Sakit yang tak terperi
Memaksa untuk terus memberi
Rasa yang tadinya kuanggap besi

Aku tak kuasa dengan rasa ini
Memenjara setiap sepi
Hingga air mata tak berhenti

Apakah aku merindu?
Apakah ini namanya cinta biru?
Ataukah hanya rasa semu?

Entah mengapa aku begitu merindu
Merindu akan dirimu
Entah mengapa dengan hatiku
Selalu merindu
Padamu 

Kamis, 06 Oktober 2011

Curhat tentang Ibu

By: Ugahari
 
Ibu ku adalah tipikal ibu-ibu yang cukup khawatiran tentang kesehatan anak-anaknya. Hanya mengeluh sakit perut saja dalam beberapa hari, beliau akan bertanya-tanya dan mengetes bagaimana rasanya jika kakiku di angkat. Karena khawatir itu adalah usus buntu. Nah, saat ini Ibu sedang rajin-rajinnya memperhatikan cara jalanku pasca keseleo ketika sedang berlibur di kampung halaman. Setiap saat Ibu akan bertanya tentang kondisi kakiku. Sudah satu bulan lebih sejak kejadian itu, namun hingga kini rasa sakit di kakiku belum sepenuhnya hilang. Ibuku khawatir tentang hal ini.

Seperti magrib tadi. Kami berdua sedang duduk menonton acara TV sementara Ibu menghilangkan rasa gerahnya setelah pulang dari kantor. Sambil membuka-buka halaman koran, Ibu bertanya, "Kakinya gimana, Kak?"

Ku jawab, "Masih kayak kemarin."

"Sakitnya gak berkurang?"

"Engga, malah jadi agak lebih sakit lagi nih."

"Loh, masa? Obat kamu minum?"

"Di minum, masih ada tuh. Tinggal sedikit lagi."

Wajah Ibu yang mulai menua, tampak berkerut-kerut. "Di bawa kemana lagi ya, Kak. Mbah yang kemarin gak cocok kali. Apa ke tempat yang dulu? Tapi, Ibu gak hafal tempatnya dimana..." Ibu berkata dengan nada penuh ke khawatiran.

Ah, ada perasaan sedih menyusup hatiku saat menatap wajah dan mendengarkan nada kekhawatiran disana. Aku tak menyangka, masalah kakiku saja dapat membuatnya sekhawatir itu. Ibu pun sampai bertanya tentang jadwal kuliahku. Beliau mencocokkan jadwal kerjanya dengan jadwalku agar bisa membawaku ke tempat urut.

Rasanya, aku terharu dan merasa bersalah. Bahwa selama ini, aku tak begitu perhatian pada Ibu yang sangat memperhatikan aku....

Surat Cinta untuk Bunda

By: Karzel Syifa

Kujauh darimu Bunda
Tuk tegakkan masa yang akan datang
Memberi sumbangsih bagi kehidupan
Tentang impian dan harapan

Restui daku Bunda
Ketika ku pergi membawa visi
Bukan hanya sekedar mimpi-mimpi

Pastikan dirimu selalu ada dalam setiap langkahku
Membawa keberkahan limpahan Rabbi
Agar jalan dapat kuukir
Dengan tinta emas dari darah yang suci