Senin, 23 Juli 2012

Endri Cahyo


Nama : Hendri Cahyo Dwi Safitri
Nama Pena : Endri Cahyo D. Safitri
Alamat : Bangsalan RT 1, RW 3, Ponowaren, Tawangsari, Sukoharjo Jawa Tengah 57561
Nomor Hp : 087887356632, 085692724727
Sekolah : Sekolah Tinggi Ilmu Statistik
Hobi : menulis
Motto : Menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain dengan berkarya

Dwi


Nama    : Dwi Lestari
Nama Pena: -
Alamat : Perum Dinar Asri Blok L-10 Meteseh, Tembalang Semarang
No HP: 081 325 788 679
Sekolah : Lulusan UNS Akuntansi. Sekarang bekerja sebagai staff Keu di LSM
Hobi : yang asik asik, dan yang enak enak..
Judul buku yang sedang dibuat antologi : Antologi Pramuka dan Curahan Buah Hati. Pernah menang dalam penulisan "Not a Heppy Holiday" di blogdivapress.com.
Moto : Bekerja Cerdas

Xu Phiexz


Nama : Supiyati
Nama Pena : lovely_xu
Alamat : Jl. Dukuh Kupang Lebar Gg. XVI No. 12, Surabaya
No. HP : 081332375784 / 03134167003
Sekolah : Alumnus PIKMI Surabaya D1 ( Akuntansi Bisnis )
Hobi : Utak - atik komputer, membaca kisah inspiratif & full motivasi
Judul Buku yang sudah dibuat (Antologi, dll-jika ada) : tidak ada
Motto : Sesuatu tidak akan menjadi sempurna, jika tidak mengenali kekurangan yang ada pada diri kita.

Andini Indah Pratiwi


Nama                    : Andini Indah Pratiwi
Nama Pena         : -
Alamat                  : Jl. Ters. Kopo KM. 11,5 No. 138B Kec. Katapang, Kab Bandung 40971
No. HP                  : 085624033679
Hobi                       : Menulis, sketching, baca fiksi, dan nonton.
Buku yang sudah di buat : belum ada
Motto                   : Draw your life with your heart and brain!

Ariashinta

 
Nama Lengkap : Devi Ariashinta
Nama Pena  : Ariashinta
No Anggota : 01/VII/SMCO/07/2011
TTL : Jakarta, 17 Oktober 1992
Pendidikan : Mahasiswi UPN "Veteran" Jatim
Alamat : Asrama UPN "Veteran" Jatim, Surabaya.
Email : ariabee.writer23@ymail.com
No Handphone : 08567285023
Hobi : Menulis, Membuat lirik lagu, Berorganisasi, Main gitar, Mendokumenter
Motto : "Berkisah hingga dikisahkan"
Judul buku : - Aku Benar-benar Bertemu Setan
  - Aksara Kalbu 
  - Rahasia Sekeping Hati

Rabu, 18 Juli 2012

Mozaik Tiga Masa

By: EL

Pino, lahir dan dibesarkan di sebuah desa pesisir pantai. Desa kecil yang termasuk dalam daftar desa tertinggal, pada masa orde baru. Di mana sebagian besar penduduknya bermata pencaharian tani dan nelayan tradisional.

Jejak hidup Pino sejak masa kanak-kanak, remaja hingga menjelang dewasa, menjadi kepingan-kepingan makna yang menggugah. Ibarat Mozaik  yang belajar membentuk keindahan di Tiga Masa, dengan nafas yang diberikan Tuhan tanpa jeda.

Keluarga broken home, saat usia 8 tahun. Membuatnya harus berjuang, melanjutkan belajar di bangku sekolah dasar (SD). Ibu kandungnya, diam-diam memilih merantau ke kota yang jauh, selama bertahun-tahun. Sedangkan sang Ayah, yang hanya petani miskin, hidup tak tentu arah, karena terpukul atas musibah yang menimpa keluarga mereka.

Akibatnya, untuk bertahan hidup, Pino harus pindah dari rumah keluarga yang satu ke pondok keluarga yang lain. Bekerja di usia dini, untuk mendapatkan uang jajan di sekolah. Melihat kegigihan dan kecerdasan Pino, ia diperebutkan dijadikan anak angkat oleh tetangga, keluarga, guru serta suster di desanya. Dengan berbagai macam iming-iming. Namun ia menolak.

Di usia remaja, Pino melanjutkan sekolah ke jenjang sekolah menengah atas (SMA). Dengan semangat yang ia miliki, meski harus bekerja sebagai buruh bangunan, dan “menumpang tinggal” di rumah orang. Ia berhasil menjadi siswa teladan, ketua OSIS, dan beberapa kali mewakili sekolah di ajang olimpiade pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan alam. Status sebagai ketua kelas dan juara 1 kelas, yang ia dapatkan sejak kelas I SD, masih mampu ia pertahankan hingga kelas III SMA. Yah, masa remajanya,  adalah masa mewarnai hidup dengan prestasi.

Saat beranjak dewasa, ia melanjutkan kuliah sambil bekerja. Dengan pekerjaan itu, ia mampu memenuhi kebutuhan hidup selama kuliah, serta meringankan beban orang tua. Namun, mendekati penyelesaian studi, ia diperhadapkan pada kisah cinta yang dilema, mengoyak hati. Menerima perjodohan dengan gadis berkarakter manja, keras kepala, serta “ratu selingkuh”. Atau meninggalkan pekerjaan dan menciderai hubungan baik dengan pimpinan perusahaan, yang tidak lain adalah kakak kandung dari gadis yang dijodohkan dengannya.

Apa yang menyebabkan keluarga Pino mengalami broken home?
Bagaimana ikhtiarnya menjalani setiap cobaan? Yang ia lalui dengan kucuran keringat dan air mata?
Apa rahasianya sehingga mampu mempertahankan prestasi sejak SD hingga SMA?
Bagaimanakah sikapnya pada kedua orang tua, yang membutuhkan bantuannya saat dia dewasa? Padahal dulu mereka menelantarkannya.
Apa keputusan Pino terhadap perjodohan yang dilema tersebut?
Apa sebenarnya impian Pino, sehingga ia begitu gigih menghadapi setiap cobaan?
Bagaimana Pino membangun kembali impiannya? Setelah terjatuh di saat ia berada di puncak kesuksesan.
Semua jawabannya akan didapatkan, setelah Anda membaca isi novel ini.
Mozaik Tiga Masa, dipersembahkan untuk pengelana kehidupan, yang tidak pernah menyerah mewujudkan impiannya.

Inilah persembahan kerinduan, yang diangkat kisah nyata yang dialami oleh penulisnya sendiri. Pemuda sederhana, yang kini dikenal sebagai leader penebar semangat di dunia maya maupun nyata. Aktivis muda, yang sedang berjuang untuk mewujudkan perubahan di daerahnya. Pria penikmat hujan, dan penunggu pelangi di peraduan senja.


Rabu, 07 Desember 2011

Sindrom Gagal Menulis Jangka Pendek

By: Yulia Arianti
 
Tergagap aku menekan tuts-tuts keyboard laptop. Bukan karena baru belajar mengetik atau memainkan laptop. Ini adalah akibat dari mentalku yang belum siap menulis. Ternyata menulis itu adalah sesuatu yang gampang-gampang susah.
Ketidaksiapan mental ini yang membuat ruang hampa dalam jalur waktu menganga lebar. Kegagapan menuliskan cerita itu kurasakan begitu menyiksa. Seperti ketika seseorang kekasih ditinggalkan kekasihnya meninggal tiba-tiba. Tanpa ada kalimat perpisahan. Begitu sedihnya, namun tak bisa protes pada siapapun.
Ketakutan mulai menyelimuti hatiku. Aku menulis satu kalimat namun berhenti. Aku takut, teramat takut jika tidak bisa menyelesaikan tulisanku. Lalu kupaksakan lagi untuk menulis beberapa kata. Kubantah pikiranku sendiri. Kukatakan,” Tulisanku akan selesai jika aku terus menulis.“
Kemudian setelah jadi satu paragrah, suara di kepalaku membisikiku lagi. “Apa yang sedang kau tulis? Kau takkan mampu membuat tulisan yang menarik, kau tak puny ide yang cemerlang dan kreatif, juga tulisanmu mudah ditebak alias terlalu umum.” Aku menundukkan kepala.
Kali ini suara itu seperti meriam yang ditembakkan ke kepalaku. “Kau tak pernah serius untuk menulis, kau terlalu dangkal. Bahkan untuk membuat sebuah tulisan yang baik itu kau tidak punya rumusnya alias kau buta EYD.”
Ahh… aku mulai mengiyakan semua kalimat itu. aku menyerah. Kuambil sembarang buku di rak perpustakaan pribadiku. Kubaca lembar demi lembar buku itu. Bagaimana bisa mereka membuat buku-buku ini? Sementara aku kesulitan menuliskan hanya satu paragraph saja. Si penulis makan nasi akupun sama. Bagaimana bisa dia menghadirkan nuansa jiwa yang menyentuh pada tulisan-tulisannya. Sementara si penulis dibesarkan di negara yang sama, dengan jenjang sekolah yang sama dan budaya yang nyaris sama denganku.
Apa yang salah denganku? Aku menutupkan buku itu kemukaku. Mencari segala kemungkinan jawaban. Namun tak juga kutemukan. Lalu kupandangi buku-buku yang berjejer rapi di rak bukuku. Entah sudah berapa koleksi bukuku. Kupikir jika tidak hilang karena dipinjam teman, separuh dinding rumahku tentunya sudah penuh dengan buku-bukuku.
Bahkan dengan membaca sekian banyak buku, aku masih kekeringan ide untuk menulis sesuatu yang bermakna. Aku merasa mulai frustasi. Lalu kutuliskan kegundahan hatiku tentang ide yang tak kunjung muncul. Aku vakum sudah sebulan lebih dari menulis puisi apalagi sebuah cerpen.
Akhirnya aku menulis ini. Menulis kegundahan hatiku karena ternyata saat ini aku sedang terkena penyakit yang berbahaya. Entah apa nama untuk penyakitku ini, mungkin semacam “Sindrom Gagal Menulis Jangka Pendek”.
Setelah sedikit analisis yang tidak begitu mendalam, kudapati penyebab yang mungkin benar mungkin juga salah adalah: aku menulis dalam kondisi mental yang tidak sehat. Bisajadi aku berada dalam tekanan perasaan bahwa aku harus membuat sebuah tulisan yang baik dan bagus, sehingga belum-belm menulis aku sudah memikirkan bagaimana jika nanti hasinya jelek? Akhirnya tak ada satu tulisanpun yang tercipta.
Padahal jika kutilik lagi tulisan-tulisan ku di awal, aku memotivasi diri sendiri bahwa, aku menulis bukan karena mengharapkan sesuatu seperti pujian atau segala hal yang bisa dinilai. Namun aku menulis untuk sesuatu hal yang lebih tinggi pemaknaannya dari itu. Yaitu nilai kemanfaatan bagi orang lain yang membacanya, ini adalah konteks ibadah. Konteks menyampaikan sesuatu yang benar menurut nilai-nilai Illahiyah. Sehingga ketakutan itu dengan sendirinya harusnya segera tersingkir.
Karenanya, kupikir dalam menulis pun harus selalu ada introspeksi diri atas niat awal menulis, dan bukan berarti nilai tulisan serta unsur-unsur dalam penulisan ditinggalkan, seperti memperhatikan EYD. Kedua hal itu saling menguatkan. Sehingga juga perlu diasah terus.
Intinya, menyadari kemampuan diri, meluruskan niat lalu mulai menuliskannya, sembari merapikan tulisan-tulisan yang telah, sedang dan akan kita buat. Sekarang aku ingin melihat diriku sendiri dan menanyakan padanya: “Sekarang apa yang akan kau lakukan dengan masalahmu?”
Dialog dalam kepalaku berbalas: “Bagaimana? Kau belum bisa menyadari bahwa ‘Sindrom Gagal Menulis Jangka Pendek’ itu mulai teratasi. Buktinya kita telah selesai menuliskan satu ide tentangnya. Tentang “Sindrom Gagal Menulis Jangka Pendek” yang kita rasakan. Hahaha” aku tersnyum mendapati hari ini aku mulai melangkahkan kakiku lagi.